MONITOR UTAMA

Ditolak Masuk Manado, Puluhan Perantau Warga Sulut Dan Gorontalo Terlantar Di Ternate

TERNATE, Monitor Malut– Akibat dampak dari penyebaran wabah covid- 19, puluhan warga Propinsi Sulawesi Utara (Sulut) dan Propinsi Gorontalo, mendapat penolakan dari pemerintah untuk masuk ke Propinsi Sulut). Sehingga, hampir sebulan terlantar di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Senin (11/ 05/ 2020).

Sebanyak 72 orang warga Sulut dan Gorontalo tersebut, rencananya akan menumpangi kapal KM. Permata Obi dari Pelabuhan Ternate tujuan Pelabuhan Manado, sejak 4 hari kemarin.

Sudah hampir sebulan lamanya, puluhan penumpang itu hidup terlantar di pelabuhan tanpa ada informasi yang jelas soal jadwal keberangkatan mereka. Bahkan, langkah perhatian dari pemerintah pun belum diperoleh mereka.

Salah satu warga Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, Rahma, saat ditemui wartawan di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Senin (11/ 05/ 2020) mengaku, kecewa dan marah dengan perlakuan Pemerintah Propinsi Sulut, yang tidak menerima mereka untuk masuk ke daerah asalnya. Padahal, dirinya telah melengkapi semua persyaratan sesuai protokol kesehatan Covid- 19 agar bisa kembali ke daerah asalnya.

“Jangankan itu, untuk melakukan rapid tes sebagai persyaratan mendaptkan surat rekomendasi perjalanan dari Gugus Tugas Covid-19, saya rela mengeluarkan biaya hingga Rp. 600 ribu. Namun, nasib keberangkatan kami belum juga ada kejelasan karena ditolak masuk ke wilayah Sulut”, sesalnya.

Untuk itu, Rahma berharap, kepeda pemerintah Sulut dan Gorontalo, agar memberikan izin masuk. Tak hanya itu, mereka pun siap menerima untuk dikarantina mengikuti protkol kesehatan demi memutus mata rantai Covid- 19.

“Kami semua siap untuk dikarantina oleh pemerintah, asalkan kami dizinkan pulang ke daerah kami”, harap wanita asal Kabupaten Boltim itu.

Sama halnya dengan, Akib Rondonuwu. Pria asal Manado itu mengaku, sudah hampir sebulan hidup terkatung-katung di pelabuhan di Ternate, tanpa ada perhatian dari Pemerintah Sulut.

Akib menjelaskan, semua penumpang telah mengurus semua persyaratan sesuai protokol kesehatan Covid- 19 agar bisa berangkat ke daerah asal mereka. Dirinya mempertanyakan soal anggaran yang diperuntukkan dalam penanganan pencegahan percepatan Covid- 19, termasuk warga yang terdampak virus itu dikemanakan pemerintah.

“Kami juga warga terdampak Virus Covid- 19 yang punya hak kedaulatan rakyat untuk medapatkan perlakuan yang layak sesuai Undang-undang yang berlaku. Tapi toh, kenapa pemerintah memperlakukan kami seperti ini”, tanyanya.

Lanjutnya, dalam menangani Covid- 19 tersebut, pemerintah dinilai malas dalam  mengurus warganya sendiri. Pasalnya, dalam aturan yang dikeluarkan saat ini, pemerintah Sulut hanya melakukan pembatasan bukan penolakan serta penutupan pintu masuk ke wilayah tersebut.

“Ini merupakan perlakuan yang lucu dan goblok. Sehingga saya sesalkan kepada pemerintah karena tidak ada hati nurani”, sesalnya.

Ia menambahkan, pemerintah hanya lebih memprioritaskan kedatangan Tenaga Kerja Asing dibandingkan warganya sendiri. Pasalnya, kedatangan TKA dapat memasukan pendapatan daerah yang lebih besar.

“Buktinya, puluhan TKA Cina berhasil lolos masuk ke Bandara Samratulangi Manado dari Bandara Ternate. Apa bedanya, kursi pesawat dan kursi kapal yang menerapkan system Physical Distance dan Social Distance”, marahnya menutup wawancara dengan sejumlah wartawan.

Hingga kini, Kapal KM. Permata Obi, yang rencanya akan membawa penumpang asal Sulut dan Gorontalo tersebut, masih tertahan di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Rencenanya, kapal akan diberangkatan pada pukul 16.00 Wit. Namun, belum ada persetujuan dari Pemerintah Propinsi Sulut. (Red)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close